HomeIndeks

Masyarakat Tumpah Ruah di Perang Ketupat Tempilang : Kental dengan Budaya dan Kesenian

  • Bagikan
Festival Perang Ketupat kembali digelar di Pantai Pasir Kuning, Tempilang, Kabupaten Bangka Barat, Minggu (3/3/2023) siang. Kegiatan ini, dilaksanakan setiap tahunnya di bulan ruah atau Sya’ban, sebelum Ramadhan. (Ist/Diskominfo Bangka Barat)
Festival Perang Ketupat kembali digelar di Pantai Pasir Kuning, Tempilang, Kabupaten Bangka Barat, Minggu (3/3/2023) siang. Kegiatan ini, dilaksanakan setiap tahunnya di bulan ruah atau Sya’ban, sebelum Ramadhan. (Ist/Diskominfo Bangka Barat)

BANGKA BARAT, BABELHITS.COM – Ribuan masyarakat tumpah ruah menyaksikan pesta adat festival Perang Ketupat yang digelar di Pantai Pasir Kuning, Kecamatan Tempilang, Bangka Barat, pada Minggu (3/3/2023) siang.

Kegiatan tahunan ini dilaksanakan setiap bulan ruah atau Sya’ban, sebelum tiba Ramadhan 1445 Hijriah. Rangkaian acara dimulai Ngancak, penimbongan dan taber batas kampung pada malam Nisfu Sya’ban.

 

Festival Perang Ketupat kembali digelar di Pantai Pasir Kuning, Tempilang, Kabupaten Bangka Barat, Minggu (3/3/2023) siang. Kegiatan ini, dilaksanakan setiap tahunnya di bulan ruah atau Sya’ban, sebelum Ramadhan. (Ist/Diskominfo Bangka Barat)

Sebelum perang ketupat dimulai sejumlah pertunjukan adat ditampilkan dimulai dari tarian selamat datang, tradisi Selawang Setuson atau Nganggung. Dan dilanjutkan dengan seni pencak silat, kemudian dilanjutkan dengan tradisi penimbongan.

Di acara puncak, puluhan pria dan wanita yang mengenakan seragam silat hitam, berkumpul di tengah lapangan. Mereka saling rebutan ribuan ketupat, untuk saling dilempar kepada satu sama lain. Riuh peserta dan penonton terasa di tengah acara.

Wakil Bupati Bangka Barat, Bong Ming Ming mengatakan, kegiatan ini merupakan tradisi turun menurun penduduk asli Tempilang yang diperkirakan ada sejak tahun 1.800.

“Perang ketupat tahun ini berbeda dengan tahun kemarin. Karena nuansa budaya dan kesenian, jauh lebih kental,” kata Wakil Bupati Bangka Barat, Bong Ming Ming, Minggu (3/3/2023).

Ia menambahkan, setiap tahun perang ketupat dilaksanakan dengan tujuan menjalin silaturahmi menjelang ibadah puasa pada bulan Ramadan.

“Bagaimana orang terdahulu, melestarikan kebudayaan ini, dari sisi keagamaan dan sebagainya, mempertahankan adat istiadatnya,”.

“Tidak berpengaruh adat dari luar. Boleh kita menggunakan teknologi, tetapi tetap berpegang teguh dengan adat istiadat lokal,” katanya.

Orang nomor dua di Bangka Belitung ini, mengharapkan festival Perang Ketupat kedepannya selalu dapat dilestarikan kepada generasi yang akan datang.

“Kedepan kita harus benar-benar serius, terutama untuk dapat mendatangkan wisatawan bukan hanya lokal, tetapi mancanegara. Kedepan kita perkuat lagi dari pendanaan dan seni budayanya,” ucap Bong Ming Ming. (**)

  • Bagikan