HomeIndeks

Indonesia-Jepang Perkuat Kemitraan Strategis Dorong Akselerasi Industri Nuklir di RI

  • Bagikan
PLTN. (ist)

Babelhits.com, Jakarta – Pemerintah Indonesia melalui Dewan Energi Nasional (DEN) terus mempercepat langkah menuju pemanfaatan energi nuklir sebagai bagian dari strategi transisi energi nasional. Upaya tersebut ditandai dengan penyelenggaraan Breakfast Meeting antara DEN dan delegasi institusi nuklir Jepang di Hotel Pullman Jakarta, Rabu (17/6).

Langkah ini sejalan dengan pembaruan Kebijakan Energi Nasional yang menempatkan energi nuklir sebagai salah satu opsi strategis dalam mendukung pencapaian target Net Zero Emission (NZE) 2060. Indonesia menargetkan bauran energi rendah karbon mencapai 70–72 persen pada 2060, dengan potensi kapasitas pembangkit nuklir hingga 45 GW.

Pertemuan yang berlangsung secara hibrid ini dihadiri oleh Anggota Pemangku Kepentingan DEN, yakni Satya Widya Yudha, Sripeni Inten Cahyani, Saleh Abdurrahman, Muhammad Kholid Syeirazi, dan Mohamad Fadhil Hasan. Dari pihak Jepang hadir perwakilan Ministry of Economy, Trade and Industry (METI), The Association for Overseas Technical Cooperation and Sustainable Partnerships (AOTS), serta JAIF International Cooperation Center (JICC).

Dalam pertemuan tersebut, kedua negara sepakat mematangkan draf Rencana Kerja Sama Tiga Tahun sebagai fondasi percepatan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) komersial di Indonesia.

Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), unit pertama PLTN berkapasitas 250–500 MW ditargetkan mulai beroperasi sekitar tahun 2032. Sejumlah lokasi di Sumatra dan Kalimantan Barat saat ini menjadi kandidat pengembangan proyek perdana tersebut.

Anggota DEN Satya Widya Yudha menegaskan bahwa percepatan introduksi energi nuklir harus dibarengi dengan penguatan tata kelola dan kelembagaan nasional.

“Akselerasi introduksi energi nuklir ini membutuhkan penguatan tata kelola nasional. Saat ini, fokus utama Pemerintah adalah memastikan finalisasi pembentukan Organisasi Pelaksana Kebijakan Nasional atau NEPIO (National Policy and Implementation Organisation) melalui Keputusan Presiden dalam waktu dekat. NEPIO akan menjadi motor penggerak utama sekaligus prasyarat penting untuk memformulasikan program kerja, memperjelas pembagian peran operator, serta mengeksekusi kerja sama internasional secara terintegrasi,” ujar Satya.

Untuk mendukung peta jalan pengembangan PLTN, kerja sama Indonesia-Jepang dalam tiga tahun mendatang akan difokuskan pada enam pilar utama, yaitu penguatan tata kelola kebijakan, keselamatan dan regulasi, pengembangan teknologi dan infrastruktur, model bisnis serta keterlibatan industri, aspek keamanan (safeguards), dan pembangunan kapasitas sumber daya manusia (SDM).

Sebagai tindak lanjut konkret, Jepang mengundang delegasi Indonesia untuk mengikuti program pelatihan dan kunjungan teknis ke fasilitas reaktor modular kecil (Small Modular Reactor/SMR) di Jepang. Program tersebut diharapkan dapat mempercepat transfer pengetahuan dan pengalaman dalam pengembangan teknologi nuklir modern.

Selain itu, Anggota DEN Saleh Abdurrahman menyoroti pentingnya program Coal-to-Nuclear Transfer Training, yaitu pelatihan bagi operator pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara untuk bertransformasi menjadi operator PLTN. Menanggapi hal tersebut, Jepang menyatakan kesiapan mendukung penyusunan kurikulum serta sertifikasi keahlian khusus, termasuk bagi tenaga pengelas (welder) dan teknisi perpipaan (pipefitter).

Di sektor industri, JICC dan METI merekomendasikan penerapan strategi bertahap (stepwise approach) dalam meningkatkan tingkat kandungan lokal komponen PLTN. Pendekatan ini dilakukan dengan memanfaatkan basis manufaktur Jepang yang telah beroperasi di Indonesia sehingga dapat menekan biaya logistik sekaligus memperkuat rantai pasok domestik.

Sementara itu, pada aspek pembiayaan, Jepang berkomitmen berbagi pengalaman terkait berbagai skema pendanaan internasional, termasuk mekanisme lelang dekarbonisasi jangka panjang dan fasilitas pinjaman lunak antar-pemerintah (government-to-government/G-to-G).

Anggota DEN Sripeni Inten Cahyani menambahkan bahwa pembentukan NEPIO menjadi prioritas utama pemerintah dalam memastikan kesiapan Indonesia memasuki era energi nuklir.

Melalui penguatan kerja sama strategis dengan Jepang, Indonesia berharap dapat membangun fondasi yang kokoh dari sisi regulasi, teknologi, SDM, industri, hingga pembiayaan, sehingga target pengoperasian PLTN pada awal dekade 2030-an dapat terwujud secara aman, andal, dan berkelanjutan.

  • Bagikan