HomeIndeks

Kesiapan Industri Manufaktur Nasional Kunci Rantai Pasok Energi Nuklir

  • Bagikan
PLTN. (ist)

Babelhits.com, Tangerang Selatan – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berkomitmen mendorong kemandirian teknologi energi nasional melalui penguatan ekosistem industri nuklir.

Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN, Nugroho Adi Sasongko, menekankan pentingnya kesiapan industri manufaktur nasional agar mampu masuk dalam rantai pasok nuklir global pada era transisi energi.

Ia menyatakan pembangunan industri nuklir memerlukan kerangka kerja terstruktur, seperti market, output, investment, value-added, feasibility (MOIVF) untuk memetakan kapasitas nasional, potensi pengembangan, serta ketergantungan impor. Kerangka tersebut mencakup ukuran pasar, kapasitas produksi, investasi, kekayaan intelektual, nilai tambah, serta kesiapan teknologi dan keberlanjutan.

“BRIN berperan sebagai penghubung riset dan inovasi untuk mempercepat lokalisasi industri, penguasaan standar mutu, serta pengembangan komponen reaktor seperti small modular reactor (SMR),” ujar Nugroho, dalam seminar internasional bertajuk “Strengthening the Manufacturing & Industrial Ecosystem of Nuclear Power Plant Component Systems: Towards a Sustainable National Nuclear Supply Chain”, di Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie Serpong, Rabu (3/6).

Kepala Pusat Riset Teknologi Reaktor Nuklir BRIN, Topan Setiadipura, menjelaskan energi nuklir menjadi kebutuhan strategis untuk memenuhi lonjakan permintaan listrik nasional yang diproyeksikan mencapai 443 GWe pada 2060. “Seiring berkurangnya peran batu bara sebagai beban dasar, energi nuklir diposisikan sebagai sumber listrik andal untuk menyeimbangkan energi terbarukan yang bersifat intermiten,” katanya.

Ia menilai, kesiapan ekonomi dan infrastruktur Indonesia mampu bersaing dengan negara berkembang lain yang telah mengembangkan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), seperti Turki, Bangladesh, Mesir, dan Uni Emirat Arab.

Pembangunan PLTN sebesar 35 GWe dalam 35 tahun dilakukan melalui kemitraan dengan berbagai negara pemasok global, dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan, keamanan, dan pengamanan (3S). Implementasi teknologi nuklir di Indonesia direncanakan dalam tiga skala, yaitu PLTN besar (±1 GWe), SMR berkapasitas 10–300 MWe, serta mikroreaktor (<10 MWe).

Kerja sama juga diperkuat dengan Korea Nuclear Association (KNA) dalam mendukung transisi energi ASEAN, dengan fokus pada peningkatan kebutuhan listrik regional yang diproyeksikan tumbuh 118–178 persen pada 2050, regulasi, sumber daya manusia, dan pendanaan proyek PLTN.

Sementara itu, PT PLN (Persero) memasukkan energi nuklir dalam RUPTL 2025–2034 sebagai sumber beban dasar bersih untuk mendukung target emisi nol bersih 2060. Pada tahap awal, PLN merencanakan pembangunan dua unit SMR berkapasitas 250 megawatt di Sumatra dan Kalimantan, serta pengembangan jaringan listrik super hijau untuk menjaga keseimbangan pasokan.

PLN juga menegaskan kesiapan infrastruktur sesuai standar Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), meski masih diperlukan penguatan regulasi, kebijakan, dan kerja sama antarpemerintah untuk mendukung pembangunan PLTN secara berkelanjutan. (*)

  • Bagikan