HomeIndeks

Yuk Intip! Desa Tebing Bangka Barat Punya Potensi Kekayaan Alam Melimpah

  • Bagikan
Sawah di Desa Tebing, Kecamatan Kelapa, Bangka Barat. (Ist)
Sawah di Desa Tebing, Kecamatan Kelapa, Bangka Barat. (Ist)

BABELHITS.COM, BANGKA BARAT — Desa Tebing, Kecamatan Kelapa, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung memiliki pesona keindahan alam dan perkebunan yang berpotensi menunjang perekonomian masyarakatnya.

Desa dengan luas wilayah 2.315,47 hektare, dihuni 1.419 penduduk terbagi menjadi 2 dusun dan 6 Rukun Tetangga (RT). Letak geografis desa ini, sekitar 69 kilometer dari Kota Pangkalpinang Ibukota Provinsi Bangka Belitung dengan jarak tempuh 1 jam 25 menit.

Sementara dari Mentok Ibukota Kabupaten Bangka Barat jarak yang tempuh 75 Km. Desa ini juga berdampingan langsung dengan Desa Air Bulin dan Kelurahan Kelapa.

Berikut ini potensi Desa Tebing yang dipimpin oleh Saimi selaku Kepala Desa, Periode 2022-2028.

 

#Kekayaan Alam

Sawah di Desa Tebing, Kecamatan Kelapa, Bangka Barat. (Ist)

Desa Tebing memiliki sektor perkebunan seperti lada, karet, kelapa sawit dan persawahan. Persawahan yang dimiliki desa ini sangat melimpah, selain jadi mata pencarian masyarakat persawahan ini juga jadi daya tarik wisata.

Sehingga harus dikembangkan agar menjadi contoh pengembangan ekowisata. Pemerintah daerah juga telah menyusun program merealisasikan mengembangkan objek wisata ini.

Meski begitu, pengembangan kawasan agrowisata ini telah dimulai terlebih dahulu oleh masyarakat setempat yang dikelola melalui Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Agrowisata Indah Sawah Tebing (AWIST) yang dipimpin Angga Saputra.

AWIST ini menghadirkan objek wisata edukasi persawahan yang menjadi icon Desa Tebing serta menjadi salah satu program unggulan. Kehadiran AWIST juga diharapkan dapat menunjang Pendapatan Asli Desa (PADes) dan kesejahteraan masyarakat melalui produk UMKM.

“Wisata non-pantai ini menjadi upaya kami, sebagai program unggulan Desa Tebing untuk menggenjot pendapatan asli desa dan untuk kesejahteraan masyarakat,” ujar Angga Saputra.

Dalam menjalankan program itu, pihaknya berkolaborasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Babar. Agar ke depan, berkembang pesat menjadi tempat wisata.

“Semoga dengan kehadiran AWIST, kami dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat setempat. Ini cita-cita utama kami dan dengan adanya objek wisata yang telah kita bangun ini dapat menjadi ikon yang ada di Babar,” bebernya.

Dengan begitu, dia harap ke depan Desa Tebing lebih dikenal masyarakat secara luas. Tidak hanya dari Babar dan tingkat Babel saja, bahkan tingkat nasional.

 

# Produk UKM Unggulan

Produk Usaha Kecil Mikro (UKM) Zam dan Zid. (Ist)

Sebagai desa percontohan kebersihan dan kesehatan dengan telah memiliki gedung Rumah Desa Sehat (RDS), Desa Tebing juga punya produk Usaha Kecil Mikro (UKM) unggulan bernama Zam dan Zid, produk olahan makanan dari singkong ini cukup menonjol di sana.

Ini dikarenakan produk yang diolah jadi keripik original dan pedas ini berperan sebagai satu sektor pendongkrak ekonomi lokal dan memperkenalkan citra desa ke berbagai penjuru. Terlebih, Purmasari, selaku pemilik, telah memiliki tempat olahan sendiri dalam membuat keripik.

“Usaha ini saya mulai sejak tahun 2015 sampai sekarang, alhamdulillah masih bisa diterima di masyarakat Kelapa dan sekitarnya. Harapan saya ke depan keripik kami, semakin dikenal luas dan diminati sampai luar provinsi dan bahkan luar Indonesia,” ujar Purmasari.

 

# Adat, Istiadat dan Kebudayaan

Tradisi Sedekah Kampung Desa Tebing

Selain memiliki kekayaan alam dan UKM unggulan, Desa Tebing juga memiliki adat istiadat dan budaya, diantaranya sedekah secara skala besar yang digelar setiap tahunnya, sejak dari dulu.

Hal itu diterangkan Ketua Adat Desa Tebing, Jalaludin. Katanya budaya dan adat-istiadat itu sudah dilaksanakan dari dahulu sejak desa ini terbentuk.

“Pada saat permukiman awal masih di dekat pemakaman desa sekarang, kala itu, waktu masih dihuni tujuh rumah ada orang tua kami bernama Akek Kumbas, dukun besar kala itu. Beliau yang mengembangkan sedekah kampung atau ruahan,” kata Jalaludin.

“Apa yang dilaksanakan rutin sekarang, tahunan, itu berawal dari Akek Kumbas. Di mana setiap bulan ruahan, seluruh masyarakat yang bermukim di Desa Tebing menggelar sedekah dengan skala besar-besaran. Dulu kita sebut sebagai sedekah kampung,” tambahnya.

Selain itu, 2 adat ikonik di desa ini yaitu Sedulang Seumah dan Sedekah Ruahan tadi, menggambarkan kebersamaan dan kepedulian sosial di Desa Tebing. Begitu pula Tarian Kembang Cabik yang menjadi warisan budaya, sangat memukau dengan keindahannya.

 

# Penduduk Asli Suku Empeng

Masyarakat menari Tarian Kembang Cabik, Desa Tebing, Kecamatan Kelapa. (Ist)

Dengan beragam potensi, desa ini juga ternyata memiliki penduduk asli lokal bernama Suku Empeng. Suku ini masih terus terjaga kelestariannya, kemudian diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi bahkan hingga di abad ke-21 (saat ini, 2023).

Suku yang tersebar pula, di Kelurahan Kelapa ini, menciptakan keberagaman kultural bagi daerah ini. Tokoh Adat Desa Tebing, Jalaludin membeberkan, bahwa dulunya, pemukiman penduduk asli Suku Empeng bukan bermukim di kawasan yang berjejer pada saat ini.

“Asal-usulnya waktu masih berbentuk dusun, bukan di lokasi saat ini, di sana (arah kuburan desa). Jadi di situ lokasi pertama nenek-kakek moyang kami dengan dihuni oleh penduduk ada tujuh rumah. Seiring berjalan waktu, dusun ini diberikan nama Tebing,” ungkapnya.

“Mengapa Tebing? Dulu di bagian desa ini ada Sungai Mangkong dekat kawasan sawah saat ini berdampingan dengan air Sungai Gendang. Kemudian terjadi pertemuan alur air dan menyebabkan air seperti turun sehingga membentuk bukit menciptakan tebing,” katanya.

  • Bagikan