‎‎1300

Pentingnya Etika Pertanian Berkelanjutan dalam Perspektif Islam

  • Bagikan
Petani memberikan pupuk NPK ketanamannya. (Foto/ist/internet)
Petani memberikan pupuk NPK ketanamannya. (Foto/ist/internet)

Artikel ini ditulis oleh, Meila Rahma Wati, Hazia Rizki Amanda, Ezyzah Anabillah, Alfa Ridho Saputra Gulo

Fakultas: Pertanian Perikanan dan Kelautan Universitas Bangka Belitung

Pentingnya Etika Pertanian Berkelanjutan dalam Perspektif Islam. 

PERTANIAN merupakan bagian terpenting bagi sebuah negara karena berpengaruh besar terhadap keberlangsungan hidup bagi masyarakat di negara tersebut.

Semakin berkembangnya zaman dan teknologi, masyarakat harus sadar akan pentingnya perkembangan zaman dan teknologi dan diikuti dengan etika dan nilai- nilai islam.

Petani juga harus memanfaatkan teknologi yang ada pada zaman sekarang untuk meningkatkan hasil yang lebih maksimal.

Namun, praktik pertanian sekarang sering kali mengabaikan aspek pertanian keberlanjutan bahkan sampai merusak lingkungan, oleh karena itu sebuah negara memerlukan pertanian keberlanjutan untuk kebutuhan pangan pada masa yang akan datang.

Sebagai manusia yang beretika dan berakal, kita juga harus memperhatikan nilai-nilai islam dalam praktik pertanian. Islam juga menekankan tentang perintah menjaga bumi sesuia dengan surah Al-baqarah ayat 30.

Salah satu etika dalam praktik pertanian yaitu dengan mengurangi penggunaan bahan-bahan yang berbahaya bagi kesehatan konsumennya.

Menurut Kementrian Perindustrian Indonesia tercatat total penggunaan pupuk urea selama tahun 2018 sejumlah 6,27 juta ton atau mengalami peningkatan 5 persen dari tahun sebelumnya. Tidak ada data spesifik pasti mengenai jumlah kasus keracunan makanan akibat penggunanaan pupuk kimia di Indonesia.

Tetapi Kasus penggunaan pupuk kimia yang terjadi di Indonesia bukan hanya pada manusia, tetapi juga pada hewan. Sebagai contoh, pada tahun 2011, peternak di Gunung Kidul mendapati hewan ternak sapinya mati.

Dia menduga penyebab kematian hewan ternaknya itu disebabkan oleh pupuk urea yang dugunakan untuk membudidayakan lahan pertanian.

Selain itu kasus penggunaan pupuk kimia juga terjadi pada manusia, yaitu pada tahun 2006, empat warga Seragen meninggal dunia akibat keracunan pupuk cair yang dugunakan pada sayuran yang ia konsumsi.

Dampak buruk akibat penggunaan pupuk kimia ini bukan hanya terjadi pada makhluk hidup di muka bumi ini, melainkan juga pada lingkungan tempat manusia hidup.

Seperti kasus pencemaran Sungai citarum, Jawa Barat, sejak tahun 1980-an, pencemaran ini diakibatkan oleh lombah industri dan penggunaan pupuk kimia pada pertanian. Sehingga menyebabkan kematian ikan dan penurunan kualitas air di Sungai tersebut.

Kasus lain juga terjadi degradasi tanah di Jawa Tengah, sejak tahun 1960-an, ini dikarenakan penggunaan pupuk kimia secara berlebihan, akibatnya menyebebkan penurunan produksi pertanian dan meningkatkan resiko erosi. Dan masih banyak kasus lainnya.

Padahal sebagai umat islam, kita tahu bahwa islam mengajarkan kita untuk menjaga lingkungan. Beberapa landasan ajara islam yang mendukung pertanian keberlanjutan antara lain yaitu, khalifah di muka bumi, menjaga keseimbangan ekosistem, larangan mubazir, keadila dan kesejahteraan.

Islam memberikan pedoman etis untuk pengelolaan sumber daya alam termasuk pertanian. Konsep kekhalifahan islam menegaskan bahwa manusia itu bermoral dan bertanggung jawab secara spiritual untuk menjaga keseimbangan alam.

Prinsip ini mensyaratkan bahwa praktik pertanian tidak hanya mencapai manfaat ekonomi, tetapi juga memperhitungkan keberlanjutan ekologis dan sumber generasi mendatang.

Sebagaimana didefinisikan dalam Al-Qur’an melarang kerusakan dalam bentuk apapun di bumi ini. Oleh karena itu, praktik pertanian yang merusak tanah, air, dan udara merupakan pelanggaran prinsip-prinsip islam.

Etika pertanian berkelanjutan dalam islam dengan berhati-hati mengajarkan penggunaan sumberdaya, pemeliharaan ekosistem dan perlindungan Kesehatan manusia dan organisme lainnya ini adalah bentuk sebenarnya dari pertanian tidak hanya sebagai kegiatan ekonomi tetapi juga bentuk ibadah dan mandat.

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *