Babelhits.com, Jakarta – Indonesia dan Singapura semakin menunjukkan keseriusan memasuki fase baru pemanfaatan energi nuklir. Meski menempuh jalur kebijakan yang berbeda, kedua negara sama sama mengarah pada pemanfaatan teknologi nuklir generasi lanjut sebagai solusi jangka panjang ketahanan energi dan transisi rendah karbon di kawasan Asia Tenggara.
Singapura memulai langkahnya dengan membangun fondasi non teknis, terutama sumber daya manusia, riset, dan penerimaan publik. Mengutip Channel News Asia, Deputi Direktur Nuclear Energy Office Energy Market Authority Singapura, Chia Meng Hwee, menegaskan bahwa nuklir merupakan isu sensitif yang keberhasilan atau kegagalannya di kawasan akan berdampak langsung pada persepsi publik domestik.
“Keberhasilan penerapan energi nuklir di kawasan ini juga dapat meningkatkan kepercayaan publik terhadap teknologi itu sendiri. Sebaliknya, jika terjadi kemunduran dalam hal penerapan, hal ini juga dapat berdampak negatif pada persepsi lokal dan regional terhadap teknologi ini,” ujarnya.
Sekitar 95 persen listrik Singapura saat ini masih dihasilkan dari gas alam. Ketergantungan tinggi ini dinilai membuat sistem energi negara kota tersebut rentan terhadap fluktuasi harga global dan gangguan rantai pasok. Di tengah keterbatasan lahan, meningkatnya kebutuhan energi, dan tekanan target iklim, Singapura mulai mempertimbangkan opsi energi baseload yang lebih bersih dan andal.
Sebagai bagian dari persiapan, Singapura membentuk Institut Penelitian dan Keselamatan Nuklir Singapura untuk menghimpun keahlian teknologi dan keselamatan nuklir, sekaligus membangun kumpulan spesialis. Direktur institut tersebut, Profesor Madya Chung Keng Yeow, menyebut langkah awal difokuskan pada pembangunan kapasitas manusia.
“Sehingga kita mulai membangun setidaknya beberapa keahlian manusia di bidang ini sudah menunjukkan semacam permulaan,” ujarnya, seraya menjelaskan pengiriman kandidat dengan beasiswa ke luar negeri.
Komitmen Singapura juga diperkuat melalui kerja sama internasional. Dikutip dari Bloomberg, Singapura dan Amerika Serikat pada Januari 2025 menandatangani nota kesepahaman kerja sama nuklir sipil. Dalam pernyataan bersama, kerja sama tersebut diarahkan untuk “mempromosikan pengembangan daya beban dasar nol karbon untuk mendukung tujuan iklim”.
Sementara itu, Indonesia telah menempatkan PLTN secara eksplisit dalam kerangka perencanaan dan regulasi nasional. Pemerintah menargetkan pembangkit listrik tenaga nuklir pertama beroperasi pada 2032, sebagaimana tertuang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2025–2034. Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyatakan bahwa nuklir menjadi bagian dari strategi diversifikasi energi bersih.
“Selain itu kita juga memasukkan nuklir. Menjadi salah satu bukti bahwa energi bersih ini memang direncanakan secara masif. Jadi target kita 500 MW di tahun 2032 itu on grid nuklir sudah dimasukkan ke dalam perencanaan,” ujarnya.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga menegaskan target pemerintah hingga 2034. Ia menyebut pembangunan PLTN ditetapkan sebesar 0,5 gigawatt, dengan lokasi di Sumatra dan Kalimantan, masing masing berkapasitas hingga 250 megawatt.
“Nuklir kenapa di situ, sudah lewat kajian tim. Yang jelas ada beberapa lokasi, tapi dicek kelayakannya. Kedua menyangkut apakah yang dilakukan efektif,” kata Bahlil.
Meski teknologi PLTN belum dipilih secara pasti, arah kebijakan kedua negara diketahui mulai mengerucut pada reaktor generasi baru. Reaktor Generasi IV dan reaktor modular kecil dinilai lebih relevan karena menawarkan sistem keselamatan pasif, efisiensi bahan bakar, serta fleksibilitas lokasi. Dalam dokumen RUPTL, teknologi yang direkomendasikan adalah small modular reactor atau reaktor daya kecil.
Di Indonesia, minat investor mulai terlihat. Thorcon International, perusahaan pengembang teknologi molten salt reactor asal Singapura, diketahui telah mengurus perizinan tapak di BAPETEN dan mengusulkan pembangunan PLTN pertama di Pulau Kelasa, Bangka Belitung. Teknologi Thorcon 500 digadang-gadang sebagai teknologi Gen-IV yang siap dilisensikan dan dioperasikan pertama kali di Indonesia.
