Jepang bersiap mengaktifkan kembali Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Kashiwazaki Kariwa, yang dikenal sebagai PLTN terbesar di dunia, hampir 15 tahun setelah bencana Fukushima pada 2011. Informasi ini dikutip dari laporan Reuters, yang menyebutkan bahwa Pemerintah Prefektur Niigata dijadwalkan memberikan persetujuan politik atas reaktivasi fasilitas tersebut sebagai bagian dari kebijakan energi nasional Jepang.
PLTN Kashiwazaki Kariwa, yang dioperasikan oleh Tokyo Electric Power Company (TEPCO), memiliki tujuh unit reaktor dengan total kapasitas sekitar 8.200 megawatt (MW). Jika satu unit saja diaktifkan, pasokan listrik untuk wilayah Tokyo diperkirakan meningkat sekitar 2 persen, menurut data Kementerian Perdagangan Jepang. Langkah ini dinilai signifikan di tengah kebutuhan listrik yang terus naik, terutama akibat pertumbuhan pusat data kecerdasan buatan yang sangat intensif energi.
Reuters juga mencatat bahwa Jepang saat ini masih bergantung pada impor bahan bakar fosil untuk sekitar 60 hingga 70 persen bauran listrik nasional. Pada tahun fiskal terakhir, Jepang menghabiskan sekitar 10,7 triliun yen, setara kurang lebih US$68 miliar, untuk impor gas alam cair dan batu bara. Dalam konteks tersebut, pemerintah Jepang menargetkan kontribusi energi nuklir mencapai 20 persen bauran listrik nasional pada 2040, dua kali lipat dari level saat ini, sebagai bagian dari strategi dekarbonisasi.
Keputusan Jepang untuk mengaktifkan kembali PLTN terbesar di dunia tersebut menjadi contoh bagi Indonesia. Sebagai negara dengan pertumbuhan kebutuhan listrik yang konsisten dan target net zero emission pada 2060, Indonesia dihadapkan pada dilema serupa, yaitu memastikan pasokan energi yang andal sekaligus menurunkan ketergantungan pada energi fosil. Saat ini, pembangkit berbahan bakar batu bara dan gas masih mendominasi sistem kelistrikan nasional, sementara energi terbarukan menghadapi tantangan intermitensi dan keterbatasan skala.
Dalam kerangka itu, energi nuklir telah masuk dalam RUPTL 2025-2034, dengan implementasi pertama kali sebesar 250 MW pada 2032 di Bangka Belitung, kemudian pada 2033 di Kalimantan Barat dengan daya yang sama.
Di tingkat implementasi, PT Thorcon Power Indonesia saat ini menjadi perusahaan yang telah mengambil langkah konrkret dan serius. Perusahaan ini menjadi satu satunya perusahaan pengembang PLTN swasta di Indonesia yang telah memperoleh persetujuan evaluasi tapak dari Bapeten untuk rencana pembangunan PLTN di Pulau Kelasa, Bangka Belitung. Persetujuan tersebut diberikan setelah melalui penilaian teknis komprehensif sesuai standar keselamatan nuklir nasional, dan diberikan pada Juli lalu.
Tren negara-negara di dunia untuk “kembali pada energi nuklir”, sebagaimana yang dilakukan oleh Jepang, menjadi momentum bagi Indonesia untuk menyegerakan implementasi PLTN di Tanah Air. Telah hadirnya pengembang teknologi seperti Thorcon di Indonesia, menjadi angin segar yang menunjukkan telah cukup tingginya kepercayaan pemodal asing untuk mengembangkan usaha di bidang energi nuklir di Tanah Air.
