Babelhits.com, Jakarta – Thorcon International menegaskan komitmennya untuk menghadirkan teknologi nuklir generasi baru yang aman, terjangkau, dan dapat diandalkan dalam gelaran Asia Nuclear Business Platform (ANBP) 2025 yang berlangsung di Movenpick Hotel, Jakarta Pusat, pada 9–11 Desember 2025. Acara bergengsi ini mempertemukan berbagai perusahaan dan lembaga terkemuka di sektor nuklir global, termasuk Thorcon, Hunton, Terra Innovatum, SPC Doza, Excel, Caelus, serta L3Harris, dan turut co-host oleh Dewan Energi Nasional (DEN).
Dalam presentasinya pada 11 Desember, Matt Wilkinson, CEO Thorcon International, menyampaikan bahwa Thorcon telah memasuki fase penting dalam membawa teknologi reaktor garam cair asal Amerika Serikat ke pasar Asia Tenggara.
“Teknologi kami berasal dari Amerika Serikat, tetapi kantor pusat kami berada di Singapura karena pasar utama kami adalah Asia Tenggara,” ujar Wilkinson.
Ia menjelaskan bahwa Thorcon telah memiliki anak perusahaan di Indonesia, PT Thorcon Power Indonesia, dengan sekitar 20 staf, dan menargetkan reaktor demonstrasi dapat beroperasi penuh pada tahun 2031. Beberapa negara, termasuk Amerika Serikat, telah menyatakan minat untuk menjadi lokasi proyek demonstrasi.
“Sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, tertarik menjadi tuan rumah proyek demonstrasi kami. Namun, kami lebih memilih untuk mendemonstrasikannya di Pulau Kelasa, di lepas pantai Bangka, Indonesia,” kata Wilkinson.
Wilkinson menegaskan bahwa Thorcon sedang melakukan negosiasi serius dengan mitra rantai pasok kelas dunia dari Korea Selatan dan berencana menandatangani kontrak pada kuartal pertama 2026. Ia juga menjelaskan bahwa reaktor Thorcon menggunakan bahan bakar LEU 4,95%, dan torium dapat dimasukkan ke dalam fuel salt ketika HALEU tersedia secara komersial dengan harga yang kompetitif.
“Proyek ini membutuhkan komitmen dan semangat kuat dari negara tuan rumah untuk menyamai semangat dan komitmen finansial kami,” tegasnya.
Dalam sesi tersebut, Wilkinson menyampaikan sejumlah persyaratan utama agar proyek demonstrasi berjalan efisien dan memastikan keselamatan menjadi landasan utama.
“Kami membutuhkan jaminan bahwa tidak akan ada penundaan perizinan dari pemerintah, kecuali izin yang memang menjadi kewajiban regulator nuklir. Setelah kami mendemonstrasikan bahwa pembangkit kami bekerja sebagaimana mestinya, kami berharap negara tuan rumah segera mengonversinya menjadi pembangkit komersial dan mengizinkan kami menjual listrik ke jaringan.”
Ia juga menambahkan bahwa Thorcon siap membangun kapasitas tambahan 500 MW setelah pembangkit tersebut berstatus komersial. Wilkinson menekankan pentingnya keberadaan regulator nuklir nasional yang kuat, independen, transparan, dan berbasis sains.
“Kami membutuhkan regulator nuklir yang kuat, independen, dan transparan—yang kebal terhadap tekanan politik apa pun yang dapat mengganggu keputusan keselamatan berbasis ilmiah.”
Thorcon juga meminta konfirmasi bahwa standar tanggung jawab global USD 400 juta berlaku untuk pembangkit dan fasilitas persiapan bahan bakar, serta dukungan pemerintah dalam pengamanan lokasi fasilitas tersebut.
“Preferensi kuat kami adalah menjadikan Pulau Kelasa sebagai lokasi pembangkit demonstrasi,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Wilkinson menegaskan manfaat jangka panjang teknologi Thorcon bagi Indonesia dan kawasan.
“Kami menyediakan listrik yang aman, bersih, dan terjangkau dalam skala besar untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan mendukung pencapaian Net Zero. Jika hal ini menarik bagi siapa pun di ruangan ini, silakan berbicara dengan saya,” tuturnya.
Thorcon menilai ANBP 2025 sebagai momentum strategis untuk memperkuat kerja sama antara industri, pemerintah, dan regulator dalam mewujudkan masa depan energi nuklir yang aman, efisien, dan kompetitif bagi Indonesia.
