Eksistensi Timong di Tengah Maraknya Kerusakan Mangrove di Belitung Timur

  • Bagikan
Kak Inar sedang mengambil isi Timong yang kemudian dijual kepada para pelanggan nya (Foto : Istimewa)

BABELHITS.COM, BELITUNG TIMUR – Bagi masyarakat Belitong siapa yang tidak mengenal Timong? Timong adalah sejenis kerang yang memiliki ekosistem di air payau tepatnya di dalam kawasan Mangrove.

Dalam bahasa Indonesia kerang ini dikenal dengan sebutan Kepah, atau dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) diartikan sebagai kerang besar yang dapat dimakan, hidup di lumpur di tepi laut.

Timong bagi masyarakat Belitong adalah salah satu sumber protein yang biasa dimasak dalam beragam masakan.

Ada yang dimasak cukup dengan direbus dan diracik dengan bumbu bumbu seperti kunyit, serai, lengkuas, cabai merah, bawang merah, bawang putih dan garam atau dalam bahasa lokal Belitong disebut sebagai Pindang Serani.

Adapula yang dimasak dengan menggunakan santan kelapa, dalam bahasa lokal masyarakat Belitong sering menyebutnya sebagai Sayor Santan Selabor dengan campuran daun Katuk dan Ubi jalar.

Ditengah Modernisasi dan kerusakan kawasan Mangrove di Belitung Timur yang semakin masif, beruntunglah masih ada Kak Linar, perempuan asal Desa Mekar Jaya, Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung Timur yang berprofesi sebagai pencari Timong ini. Sehingga eksistensi Timong sebagai sumber protein lokal masih dapat kita temukan. Sehari-hari Kak Linar dengan kedua saudara perempuan nya mencari Timong dengan menggunakan sampan yang dipinjam dari tetangga nya ke kawasan Mangrove Sungai Manggar yang berjarak 30 menit dari kediamannya.

Profesi yang telah dijalaninya sejak belasan tahun lalu ini mampu membantu Ekonomi rumah tangganya. Timong yang dihargai Rp.50.000/Kg ini dalam sehari bisa terkumpul sebanyak 2-3 Kg. Ketika Babel Hits bertanya di kediaman nya Kamis (4/8/2022), apakah ada pengaruh aktifitas tambang di kawasan Sungai dengan hasil tangkapan Timong? beliau hanya tersenyum dan kemudian menjawab, yang pasti daerah tangkapan kami lebih mengecil bang, tidak seluas dulu ungkapnya.

Di kediaman Kak Linar ini masih ada potensi dari limbah Timong yang masih belum termanfaatkan sebagai material produk kerajinan oleh-oleh Belitong, Beliau juga berharap ada pembeli yang mau membeli limbah ini sehingga akan menambah nilai ekonomi dari Timong ini, beliau juga berharap jika suatu saat ada pihak yang membantu beliau dalam bentuk bantuan sampan, karena sehari-hari nya beliau dan kedua kakaknya hanya mengandalkan sampan pinjaman tetangganya. ”Mun ade nok bantu kamek bangat senang e bang”, tandasnya dalam bahasa lokal Belitong yang berarti mereka sangat senang jika ada pihak yang membantunya.(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *