BRIN Edukasi Siswa tentang Teknologi Nuklir untuk Kanker

  • Bagikan
Caption: BRIN Edukasi Siswa tentang Teknologi Nuklir untuk Kanker. (ist)

Babelhits.com, Bandung – Teknologi nuklir memiliki peran strategis dalam bidang kedokteran, khususnya diagnosis serta terapi kanker berbasis radioisotop yang memungkinkan deteksi dan penanganan penyakit secara lebih terarah. Pemahaman tersebut diperkenalkan kepada siswa-siswi SMA Islam Nurul Fikri Bandung dalam kunjungan edukatif ke kawasan BRIN Tamansari pada Kamis (21/5) sebagai pembelajaran penerapan teknologi nuklir di bidang kesehatan.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka, dan Biodosimetri BRIN, Isti Daruwati, menjelaskan bahwa kedokteran nuklir saat ini memiliki dua fungsi utama, yakni diagnosis dan terapi. Dalam konteks kanker, teknologi ini tidak hanya membantu mendeteksi sejak dini, tetapi juga memantau kemungkinan kekambuhan.

“Nuklir bisa mendeteksi kanker sejak dini, mengetahui tingkat keganasan sel, bahkan mendeteksi apakah kanker itu kambuh lagi,” ungkap Isti.

Ia menambahkan, salah satu keunggulan utama kedokteran nuklir adalah kemampuannya menggabungkan diagnosis dan terapi dalam satu pendekatan berbasis penandaan molekul, dengan memanfaatkan jenis radioisotop yang berbeda. Kombinasi ini membuat proses diagnosis lebih presisi sekaligus meningkatkan ketepatan terapi sasaran.

Salah satu contoh penerapannya adalah terapi kanker tiroid menggunakan Iodium-131. Dalam metode ini, pasien dapat mengonsumsi kapsul yang mengandung Iodium-131 yang bekerja langsung di dalam tubuh untuk menghancurkan sel kanker tanpa tindakan operasi.

“Pasien cukup menelan kapsul berisi Iodium-131, atau bisa juga dicampurkan ke dalam makanan. Senyawa nuklir ini bekerja langsung dari dalam tubuh untuk membunuh sel kanker tiroid tanpa operasi,” jelasnya.

Isti juga memperkenalkan teknologi pencitraan medis PET-CT kepada para siswa. Teknologi ini menggabungkan Positron Emission Tomography (PET) yang mendeteksi aktivitas sel kanker, dan Computed Tomography (CT) yang menampilkan struktur anatomi tubuh secara detail. Sel kanker yang aktif akan terlihat lebih jelas karena menyerap zat penanda lebih tinggi dibandingkan sel normal.

Melalui PET-CT, menurut Isti, tenaga medis dapat mengetahui tingkat keganasan sel, membedakan sel normal dan sel kanker, serta memantau kemungkinan kekambuhan atau penurunan sel kanker.

Isti menilai pemanfaatan teknologi nuklir di bidang kesehatan kini telah berkembang menjadi metode yang efektif, aman, dan presisi, sekaligus berharap pemahaman tersebut dapat mengubah cara pandang generasi muda terhadap istilah “nuklir” serta mendorong ketertarikan mereka untuk terlibat dalam riset di bidang tersebut.

“Kami berharap anak-anak muda tidak lagi melihat nuklir sebagai sesuatu yang menakutkan, tetapi sebagai bidang ilmu yang punya manfaat besar bagi kesehatan,” pungkasnya. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *