BRIN dan JAEA Perkuat SDM Teknologi Nuklir melalui Pelatihan HTGR

  • Bagikan

Babelhits.com, Yogyakarta – Direktorat Pengembangan Kompetensi (DPK) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat kesiapan sumber daya manusia (SDM) teknologi nuklir melalui Follow Up Training Course on Reactor Engineering and Safety (RES): High Temperature Gas-Cooled Reactor (HTGR) yang diselenggarakan pada 18–22 Mei 2026 bekerja sama dengan Integrated Support Center for Nuclear Nonproliferation Security and Human Resource Development (ISCN) Japan Atomic Energy Agency (JAEA), Jepang.

Penguatan kapasitas SDM menjadi bagian penting dalam mendukung agenda transisi energi nasional. Pemerintah telah memasukkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) ke dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 dengan target pembangunan awal PLTN berkapasitas sekitar 500 MW yang ditargetkan beroperasi pada 2032.

Target tersebut menuntut kesiapan infrastruktur ketenaganukliran, termasuk pemenuhan kompetensi SDM sesuai panduan Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA).

Program RES menjadi salah satu instrumen penguatan kapasitas SDM ketenaganukliran nasional. Program ini merupakan bagian dari rangkaian Instructor Training Program ISCN JAEA yang telah berjalan sejak 1996 untuk mendukung pengembangan SDM teknologi nuklir di negara-negara Asia.

Pelatihan lanjutan ini melibatkan alumni Instructor Training Course (ITC) Indonesia dengan pendampingan pakar JAEA. Kegiatan diikuti mahasiswa, dosen, dan profesional ketenaganukliran dari 12 institusi.

Peserta memperoleh materi dan simulasi mengenai teknologi HTGR, salah satu reaktor Generasi IV yang tengah diteliti dan dikembangkan para periset BRIN sebagai alternatif dalam bauran energi nasional.

Plt. Direktur Pengembangan Kompetensi BRIN Rahma Lina mengatakan pelatihan tersebut menjadi kesempatan strategis bagi peserta untuk memperdalam kompetensi langsung dari para ahli internasional.

“Ini merupakan kesempatan yang sangat mahal dan berharga, menyerap ilmu secara langsung dari salah satu pakar terbaik, yang sudah puluhan tahun berkecimpung dalam bidang ini secara teoretis maupun praktik,” ujarnya.

Selain penguatan kompetensi teknis, Rahma juga mendorong peserta memanfaatkan pelatihan sebagai ruang membangun jejaring profesional dengan sesama peserta maupun pakar internasional.

Perwakilan JAEA, Nabeshima, menilai tingginya antusiasme peserta menunjukkan meningkatnya perhatian terhadap pengembangan energi nuklir sebagai teknologi masa depan.
“Energi nuklir akan menjadi kebutuhan yang sangat penting di masa depan. Oleh karena itu, pengembangan sumber daya manusia di bidang teknologi nuklir menjadi hal yang sangat penting,” katanya.

Ia menjelaskan studi reaktor nuklir mencakup berbagai disiplin ilmu, mulai dari fisika nuklir, transportasi neutron, hidrodinamika, material, hingga analisis keselamatan. Menurutnya, HTGR menjadi salah satu teknologi reaktor maju yang juga dikembangkan dalam konsep Small Modular Reactor (SMR) di berbagai negara.

Course Director pelatihan, Andi Sofrany Ekariansyah, menjelaskan kegiatan RES 2026 merupakan kelanjutan dari RES I dan RES II pada 2025 yang difokuskan untuk memperkuat fondasi pengembangan teknologi HTGR di BRIN.

Menurutnya, pelatihan intensif HTGR diperlukan untuk menjaga keberlanjutan pengetahuan dan regenerasi SDM di tengah perkembangan teknologi energi yang semakin kompetitif.
“Perlu dilakukan regenerasi sumber daya manusia berupa pengayaan kompetensi bagi peneliti senior dan orientasi mendalam bagi peneliti baru yang baru bergabung,” jelasnya.

Salah satu peserta dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Muhammad Irfan, menyebut HTGR memiliki prospek besar sebagai teknologi energi bersih masa depan Indonesia.
“Saya melihat bahwa HTGR merupakan salah satu teknologi reaktor maju yang memiliki prospek besar untuk masa depan energi bersih Indonesia karena menawarkan karakteristik inherent safety, efisiensi termal tinggi, dan fleksibilitas pemanfaatan energi,” ujarnya.

Pelaksanaan RES 2026 juga menandai pertama kalinya kegiatan diselenggarakan di luar Serpong, yakni di Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir) BRIN di Kawasan Sains, Teknologi, dan Edukasi (KSTE) A. Baiquni, Yogyakarta.

Wakil Direktur Bidang Akademik Poltek Nuklir Sutanto mengatakan institusinya berkomitmen menyiapkan SDM untuk mendukung pembangunan PLTN pertama di Indonesia melalui pendidikan sarjana terapan dan penguatan kompetensi berbasis pelatihan.

“Kami fokus mempersiapkan SDM PLTN pertama di Indonesia melalui pendidikan setingkat sarjana terapan, dan pelatihan ini menjadi salah satu sarana penguatan kompetensi bagi dosen maupun mahasiswa yang terlibat,” ujarnya.
Ke depan, Poltek Nuklir diarahkan menjadi pusat pengembangan kapasitas teknologi nuklir di tingkat nasional maupun regional.(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *