150 Guru Ikuti Workshop Cegah Bullying, Peneliti Rokayah Sampaikan Konsep Pembelajaran Kepemimpinan Anak

  • Bagikan
Workshop Cegah Bullying. (ist)

Babelhits.com, Bangka Tengah – Masih banyak kasus bullying atau perundungan yang dialami siswa di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kerugian akibat perundungan tidak hanya dialami korban dan pelaku, sekolah juga mengalami kerugian karena dianggap belum bisa mengatasi perundungan. Hingga kini masih banyak guru yang butuh pemahaman bagaimana cara mencegah dan menangani korban dan pelaku.

Hal ini disampaikan peneliti, praktisi pendidikan Babel yang juga mahasiswa doktoral pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Rokayah, saat menjadi narasumber dalam “Workshop Cegah Bullying” yang dilaksanakan Yayasan Khoiru Ummah Bangka Belitung di Gedung BKPSDM Kabupaten Bangka Tengah, Senin (9/3/2026).

Kegiatan yang diikuti 150 guru PAUD/TK,SD dan SMP se-Bangka Tengah secara resmi dibuka langsung Kepala Dinas Pendidikan Bangka Tengah, Indrawadi.

Rokayah mengingatkan pentingnya membangun sekolah aman melalui pembelajaran yang menguatkan jiwa kepemimpinan anak. Diawali dengan memahami filosofi Pendidik dan pengajar, peran porsi guru di dalam membentuk kpribadian dan prilaku seorang pendidik.

”Dalam beberapa tahun terakhir, kasus bullying di lingkungan pendidikan semakin meningkat, baik pada tingkat SD, SMP, maupun SMA. Bullying tidak hanya terjadi dalam bentuk kekerasan fisik, tetapi juga dalam bentuk verbal, sosial, bahkan melalui media digital (cyberbullying),” beber Rokayah.

Fenomena ini menunjukkan bahwa sekolah tidak hanya menghadapi tantangan akademik, tetapi juga tantangan sosial dan emosional siswa.

Banyak peserta didik yang memiliki kemampuan kognitif baik, namun belum memiliki kemampuan empati, pengendalian emosi, dan keterampilan sosial yang memadai.

Hasil studi Programme for International Student Assessment (PISA) yang diselenggarakan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memang menunjukkan bahwa sebagian besar siswa di Indonesia masih berada pada level kemampuan 1–3, sedangkan banyak siswa di negara maju sudah mencapai level 4–6.

Temuan umum PISA, kata Rokayah, Banyak siswa Indonesia berhenti pada memahami dan menghafal (level 1–3). Sedangkan siswa negara maju sudah dominan pada analisis, evaluasi, dan pemecahan masalah (level 4–6).

“Sering kali kita mengira bahwa perundungan hanyalah candaan, ejekan, atau sekadar kenakalan anak. Namun kenyataannya, bagi sebagian anak, bullying bisa meninggalkan luka yang nyata-bukan hanya luka di tubuh, tetapi juga luka di hati yang kadang mereka bawa hingga bertahun-tahun. Bahkan mengakibatkan ada yang meningggal dunia baik korban yang merasa depresi atau akibat kekeran fisik atau aksi balas dendam korba kepada pelaku,” ujarnya.

Tingginya angka kasus Realitas bullying di Indonesia. tercatat 2500 aduan kasus kekerasan terhadap anak tahun 2025, dan tercatat 37.5% terjadi dilingkungan Pendidikan, serta 8 / 10 anak di Indonesia mengalami bullying. Tahun 2024 menunjukkan peningkatan drastis lebih dari dua kali lipat dibanding 2023. Sekitar 31% dari kekerasan di sekolah berkaitan langsung dengan bullying. Dan tahun 2025 di Bangka Belitung 50 terjadi kasus bullying yang di laporkan di kepolisian.

Mengapa Terjadi?

Menurut Rokayah, ada beberapa alasan pelaku bullying melakukan tindakan tersebut antara lain:

Pertama, merasa lebih kuat atau berkuasa. Pembully sering merasa lebih hebat, lebih kuat, atau lebih berkuasa dibandingkan korban. Hal ini membuat mereka merasa dihormati atau ditakuti oleh teman-temannya.

Kedua, merasa senang atau terhibur. Sebagian pelaku merasa terhibur ketika melihat korban sedih, takut, atau menangis, apalagi jika teman-temannya ikut tertawa.

Ketiga, ingin mendapat perhatian. Ada anak yang melakukan bullying karena ingin menjadi pusat perhatian atau ingin dianggap keren oleh kelompoknya.

Keempat, melampiaskan emosi. Kadang pembully sebenarnya sedang marah, kecewa, atau memiliki masalah pribadi, lalu melampiaskannya kepada orang lain yang dianggap lebih lemah.

Kelima, tidak menyadari dampaknya. Sebagian pelaku tidak benar-benar menyadari bahwa tindakannya sangat menyakiti korban.

Siapa Sasaran Bullying?

Dari sisi korban, kata Rokayah, ada enam katagori yang biasanya menjadi korban perundungan.

Pertama, anak yang dianggap lebih lemah. Anak yang pendiam, pemalu, atau tidak berani melawan sering menjadi sasaran karena pelaku merasa mereka mudah ditindas.

Kedua, anak yang berbeda dari teman-temannya. Perbedaan bisa menjadi alasan bullying, misalnya: Perbedaan fisik (tinggi, gemuk, kurus, warna kulit). Perbedaan cara bicara atau logat. Perbedaan kebiasaan atau latar belakang

Ketiga, anak yang memiliki prestasi tinggi. Kadang anak yang pintar atau berprestasi menjadi sasaran karena menimbulkan rasa iri dari teman lain.

Keempat, anak yang kurang percaya diri. Kelima, anak yang baru masuk sekolah. Keenam, anak dengan kondisi ekonomi berbeda dan ketujuh anak yang sulit bersosialisasi.

“Sasaran bullying biasanya adalah anak yang dianggap berbeda, lebih lemah, atau tidak memiliki dukungan sosial yang kuat. Oleh karena itu, sekolah perlu menciptakan lingkungan yang aman, saling menghargai, dan menumbuhkan empati antar siswa,” kata Rokayah.

Selain itu, akibat kurangnya pengawasan dan ingkungan sekolah kurang responsif terhadap konflik antar siswa.

Deep Learning

Rokayah membeberkan konsep deep learning dalam Pendidikan yaitu pendekatan pembelajaran yang menekankan pemahaman mendalam, refleksi, dan keterlibatan emosional siswa dalam proses belajar.

Deep learning tidak hanya menekankan menghafal informasi, tetapi juga memahami makna, nilai, dan relevansi pembelajaran dalam kehidupan nyata.

“Karakteristik deep learning yakni pembelajaran bermakna, pembelajaran reflektif, keterlibatan emosional siswa, pembelajaran kolaboratif dan pemecahan masalah nyata. Tujuannya mengembangkan pemahaman yang mendalam, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, membentuk karakter siswa, menumbuhkan empati dan kesadaran sosial dan meningkatkan kemampuan memecahkan masalah,” kata Rokayah. Pendekatan ini sangat relevan untuk mengatasi berbagai permasalahan sosial di sekolah, termasuk bullying.

Deep learning membantu siswa memahami dampak perilaku mereka terhadap orang lain.Melalui proses refleksi, diskusi, dan pengalaman belajar yang bermakna, siswa dapat memahami perasaan korban bullying, belajar mengendalikan emosi, mengembangkan empati dan membangun hubungan sosial yang sehat.

Dalam sesi dialog, terungkap banyak peserta belum memiliki pemahaman yang utuh terkait bullying dan terlebih bagaimana cara mencegah dan menangani korban. Karenanya peserta meminta kegiatan semacam ini dilakukan dengan durasi waktu yang lebih panjang dan rutin.

Kegiatan ini didukung Dinas Pendidikan Kabupaten Bangka Tengah, PT Timah Tbk, BPRS Bangka Belitung dan pihak terkait lainnya. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *