Reaktor Generasi Baru Jadi Pilihan Menarik untuk Pengembangan Nuklir di Indonesia

  • Bagikan
PLTN. (ilustrasi/ist)

Babelhits.com, Jakarta – Wacana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) kembali menguat sebagai bagian dari strategi ketahanan energi nasional dan transisi menuju energi bersih. Sejumlah pakar energi dari berbagai perguruan tinggi menyatakan dukungan terhadap langkah pemerintah untuk mengembangkan energi nuklir di Indonesia.

Pakar Energi Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Muhammad Bachtiar Nappu, menilai PLTN merupakan fondasi penting bagi keamanan energi jangka panjang. Ia secara khusus menyoroti pengembangan reaktor modular kecil atau Small Modular Reactor (SMR) sebagai model yang lebih relevan bagi Indonesia.

“Maka PLTN modular dalam bentuk SMR (Small Modular Reactor) itu truly energy security for the future adalah PLTN, tetapi dalam bentuk yang small,” ujar Bachtiar, sebagaimana dikutip dari JawaPos.com (15/2).

Menurutnya, Indonesia memiliki modal sumber daya alam yang mendukung. Cadangan uranium dan thorium tersebar di sejumlah wilayah seperti Bangka Belitung, Kalimantan, hingga Mamuju. Potensi ini dinilai dapat memperkuat kemandirian energi nasional apabila dikelola secara strategis.

Bachtiar menjelaskan, teknologi SMR yang notabenenya merupakan teknologi terbaru (generasi ke-4) lebih sesuai dengan karakter Indonesia sebagai negara kepulauan. “Teknologi SMR lebih cocok bagi Indonesia sebagai negara kepulauan karena kapasitasnya lebih kecil dan fleksibel dibanding PLTN konvensional,” ujarnya. Ia membandingkan kapasitas PLTN konvensional yang umumnya mencapai 1.000 MW, sedangkan SMR dapat dibangun dalam skala 50 MW dan dilakukan bertahap sesuai kebutuhan daerah.

Dukungan serupa datang dari Pakar Energi Sekolah Tinggi Teknologi Minyak dan Gas Bumi (STT Migas) Balikpapan, Andi Jumardi. Ia menyebut tenaga nuklir sebagai kebutuhan masa depan yang ekonomis, khususnya bagi negara berpopulasi besar seperti Indonesia.

“Apalagi untuk negara dengan populasi besar seperti Indonesia, karena harganya relatif lebih murah dibanding energi fosil,” ujar Andi kepada RMOL.id.

Ia juga menepis kekhawatiran publik terkait isu keselamatan nuklir. “Kalau dari riset yang pernah saya lakukan, dari sisi sumber daya manusia kita sangat kompeten untuk pengembangan energi nuklir. Kita juga punya cadangan uranium di Kalimantan Barat. Kasus Fukushima itu force majeure karena bencana alam yang luar biasa. Dari situ, teknologi terus berkembang untuk mengantisipasi risiko serupa di masa depan,” tegasnya.

Peneliti Laboratorium Rekayasa Termal dan Sistem Energi (RTSE) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Ary Bachtiar Krishna Putra, turut mendorong percepatan pengembangan PLTN. Ia menekankan keunggulan teknis nuklir dibanding pembangkit konvensional.

“PLTN itu unggul dari sisi densitas energi. Dengan bahan bakar yang sangat kecil, kita bisa menghasilkan listrik dalam jumlah besar dan stabil,” kata Ary.

Menurutnya, dari sisi emisi, PLTN termasuk energi bersih karena tidak menghasilkan karbon dioksida dalam proses pembangkitannya. “Secara proses, nuklir itu bersih. Tidak ada emisi karbon, yang ada hanya panas untuk memutar turbin,” tandasnya.

Ary juga menggarisbawahi bahwa tantangan utama bukan terletak pada teknologi, melainkan pada aspek non-teknis. “Teknologi sekarang jauh lebih aman dibanding masa lalu. Sistemnya makin otomatis, kontrolnya ketat, dan ketergantungan pada faktor manusia semakin kecil. Tantangan utama ada pada penentuan lokasi, kesiapan infrastruktur, dan integrasi dengan kawasan industri,” ujarnya.

Di tengah menguatnya dukungan akademisi, pengembangan konkret juga mulai terlihat melalui inisiatif swasta. Salah satu proyek yang menjadi perhatian adalah rencana pembangunan PLTN Thorcon 500 di Pulau Kelasa, Kabupaten Bangka Tengah, yang diinisiasi oleh PT Thorcon Power Indonesia. Thorcon menawarkan teknologi generasi keempat yang diklaim memiliki sistem keamanan pasif.

Saat ini, proyek tersebut masih berada pada tahap perizinan awal, yakni Izin Tapak. Pada 30 Juli 2025, perusahaan telah memperoleh persetujuan dokumen Persetujuan Evaluasi Tapak dan Sistem Manajemen Evaluasi Tapak (PET-SMET) dari BAPETEN melalui Laporan Evaluasi Keselamatan Nomor Dokumen 20/LEK/DPIBN/L25. Persetujuan ini menjadi dasar penelitian dan pemantauan lebih lanjut sebelum pengajuan izin berikutnya.

PLTN Thorcon mengusung teknologi reaktor garam cair atau Molten Salt Reactor (MSR), yang pertama kali dikembangkan oleh Oak Ridge National Laboratory pada 1960-an. MSR menggunakan garam cair sebagai pendingin sekaligus bahan bakar, sehingga beroperasi pada tekanan rendah dan memiliki efisiensi termal lebih tinggi. Desain ini juga secara inheren mengurangi risiko sistem bertekanan tinggi serta memungkinkan fleksibilitas bahan bakar, termasuk pemanfaatan thorium.

Pendekatan unik Thorcon terletak pada model manufaktur berbasis galangan kapal. Seluruh struktur utama reaktor dibangun menggunakan baja tahan karat 316 dengan teknik industri seperti panel line fabrication, plasma cutting, dan robotic welding. Reaktor kemudian dirakit di galangan kapal dan diangkut melalui laut ke lokasi operasi. Model ini diklaim mampu memangkas risiko konstruksi, mempercepat jadwal pembangunan, serta memberikan kepastian biaya melalui kontrak fixed price dan fixed schedule.

Dengan kapasitas 500 MW (2 x 250 MW), Thorcon menempatkan diri sebagai model skala menengah yang dinilai lebih cepat direplikasi dibanding proyek nuklir konvensional berskala besar. Dalam konteks pertumbuhan kebutuhan listrik nasional yang terus meningkat, pendekatan manufaktur ini diproyeksikan mampu menjawab kebutuhan listrik dasar dalam jumlah besar, cepat, dan terjangkau.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *